Rabu, 05 Agustus 2009

Desain Pengajaran al-Qur`an

DESAIN PENGAJARAN AL-QUR`AN DAN TAFSIR
DR. DEDEN MAKBULOH, M.Ag

Mata kuliah ini merupakan mata kuliah keahlian khusus (MKK) program studi PAI UML, berisi tentang upaya-upaya strategis dalam mendesain pengajaran al-Qur`an/Tafsir yang akan diaplikasikan di sekolah kelak. Mata kuliah desain pengajaran al-Qur`an/Tafsir secara umum bertujuan untuk membekali mahasiswa tentang rancang bangun persiapan mengajar sampai implementasinya. Hasil kajian ini akan bermanfaat sebagai bekal dalam mengajarkan materi-materi al-Qur`an secara maksimal.

Dalam proses pembelajaran mata kuliah ini, mahasiswa diajak untuk kreatif dan memiliki imajinasi intelektual yang luas sehingga mampu menuangkan cita-cita ideal dalam pembelajaran al-Qur`an. Oleh karena itu, dengan matakuliah ini anda akan banyak mengembangkan kecakapan kognitif, afektif dan psikomotorik, sehingga kemapuan merancang dan mendesain pengajaran dapat dilakukan dengan mudah.


Materi Pokok Perkuliahan

1. Konsep, scope dan karakteristik al-Qur`an/Tafsir.
2. Definisi dan hakikat desain pengajaran al-Qur`an/Tafsir.
3. Persiapan desain pengajaran al-Qur`an/Tafsir.
4. Komponen-komponen dan Prosedur desain pengajaran al-Qur`an/Tafsir
a. Desain Tujuan pembelajaran al-Qur`an
b. Desain kompetensi pembelajaran al-Qur`an,
c. Desain materi pembelajaran al-Qur`an (pendekatan Peta Konsep)
d. Desain Proses belajar mengajar pembelajaran al-Qur`an
e. Desain Strategi pembelajaran al-Qur`an
f. Desain Metode pembelajaran al-Qur`an
g. Desain Media pembelajaran al-Qur`an
h. Desain Suasana pembelajaran al-Qur`an
i. Desain lingkungan pembelajaran al-Qur`an
j. Desain pengalaman dan keterampilan belajar siswa dalam belajar al-Qur`an/Tafsir
k. Desain sumber belajar al-Qur`an/Tafsir
l. Desain evaluasi pembelajaran al-Qur`an (roses dan hasil)
m. Praktek membuat silabus dan RPP pembelajaran al-Qur`an/Tafsir.


DESAIN PENGAJARAN AL-QUR`AN-TAFSIR
Dosen : Dr. Deden Makbuloh, M.Ag


TA`RIF DESAIN PENGAJARAN AL-QUR`AN

Desain adalah rancang bangun. Setiap ungkapan desain menunjukkan pada upaya membangun sesuatu secara baik. Orang yang melakukan desain disebut desainer. Desainer bukan hanya pelaksana, melainkan perancang. Desainer ibarat seorang insinyur dalam bangunan yang menata bahan-bahan sedemikian rupa hingga menjadi bangunan yang sesuai dengan konsep-konsep, skema, dan komposisi yang dipertimbangkan secara matang. Artinya, seorang insinyur bukan seorang yang kuli bangunan. Seorang kuli bangunan hanya bisa mengumpulkan bahan sebanyak-sebanyaknya, dan mengerjakan berdasarkan petunjuk insinyur yang dituangkan dalam bentuk desain.

Dalam pendidikan, guru sebagai desainer. Ia harus mampu mendesain bahan-bahan pengajaran dengan baik. Ia tidak hanya mengajarkan bahan pelajaran yang ada dalam buku. Ia juga tidak hanya mengikuti susunan kurikulum yang ada. Tetapi, ia harus mendesain bahan pelajaran tersebut dengan pertimbangan-pertimbangan filosofis. Dalam pertimbangan filosofis, dapat menjawab mengapa memilih ini? Mengapa tidak memilih yang lain? Seberapa besar tingkat keberhasilan yang dapat diprediksikan?

Sedangkan arti pengajaran secara khusus adalah proses kegiatan mentransformasikan ilmu pengetahuan. Bukan mentransfer, tetapi mentransformasikan. Sebab, pengajaran yang baik yaitu ilmu yang diajarkan tidak langsung ditelan mentah-mentah oleh peserta didik, tetapi diproses oleh kemampuan kognitifnya sehingga menghasilkan ilmu baru bagi siswa yang lebih baik. Di sini terjadi proses transformasi. Semua kegiatan dalam pengajaran adalah berkaitan dengan ilmu. Dalam arti, setiap orang yang melakukan pengajaran disebut ilmuwan. Sadar ataupun tidak, guru adalah ilmuwan. Oleh karena itu, seorang guru mesti profesional dalam bidang keilmuannya. Salah satu ciri keprofesionalan yaitu mampu mendesain bahan-bahan pengajarannya. Kemampuan ini amat mahal jika diukur dari segi materi, karena tidak dapat dibeli. Kemampuan ini dapat diperoleh dengan cara pendidikan dan latihan terus menerus. Cara ini memerlukan ketahanan mental, karena tidak semua orang bertahan mentalnya jika berhadapan dengan pekerjaan-pekerjaan rumit, termasuk dalam mendesain ilmu level tinggi.

Belajar adalah proses mendapatkan ilmu menuju suatu bentuk perubahan dan pertumbuhan dalam diri seseorang yang sedang belajar. Dalam proses belajar mengajar melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang berhubungan erat dengan ilmu. Pembelajaran dikatakan optimal jika mengalami pembelajaran bermakna yang disertai dengan tingkat pencapaian pemahaman ilmu yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Al-Qur`an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril baik lfal maupun maknanya yang mengandung mukjizat serta dapat menjadi pedoman dalam berperilaku sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala berdasarkan penukilan secara mutawatir. Al-Qur`an mengandung kebenaran yang mutlak sehingga tidak ada sedikitpun keraguan di dalamnya. Oleh karena itu, isi al-Qur`an tidak mungkin dapat dirubah-rubah sekehendak manusia. Ayat-ayat al-Qur`an sudah baku, tidak mengalami perubahan sedikitpun. Sesuatu yang berubah dalam hal ini bukan ayat-ayat al-Qur`an, melainkan cara pemahaman dan perlakuan terhdapnya yang bisa berubah. Atas dasar ini, banyak bermuncullan tafsir-tafsir al-Qur`an yang berbeda antara satu dengan lainnya. Al-Qur`annya sama, tetapi cara menafsirkannya berbeda. Hal ini adalah sutu kenyataan yang tidak mungkin diingkari.

Jadi, desain pengajaran al-Qur`an adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk merancang sistem pembelajaran dalam mentransformasikan kandungan ayat-ayat al-Qur`an kepada para siswa yang sedang belajar sehingga menjadi pedoman hidup yang tak terbantahkan.

Tentu, desain pengajaran secara spesifik hanya terbatas pada bagaimana ilmu itu diajarkan. Akan tetapi, dalam kenyataannya tugas guru tidak hanya terbatas pada pengisian otak peserta didik. Oleh karena itu, perlu diperkaya dengan desain pendidikan dalam pengajaran untuk menyelami transformasi afektif dan psikomotorik. Artinya, guru tidak hanya mendesain pembelajaran untuk bidang kognitif saja, tetapi juga mendesain bidang afektif dan psikomotorik secara integral.

KUALIFIKASI GURU SEBAGAI DESAINER

UMUM

Aktivitas Desain pada hakikatnya merupakan kreativitas seorang guru. Oleh karena itu, guru yang diperlukan adalah guru yang kreatif. Sebab, jika daya kreativitas seorang guru hilang, maka desain pengajaran Al-Qur`an tidak dapat dilakukan sebagimana harusnya dalam kerangka pengajaran bermutu. Ciri kreativitas dapat dilihat dari upaya-upaya inisiasi dan inovasi. Oleh karena itu, desain pengajaran sesuai dengan hakikatnya tidak pernah berakhir (never ending). Perubahan yang terus menerus dalam mendesain pengajaran menunjukkan pada kinerja guru menuju kesempurnaan mutu pengajarannya.

KHUSUS

Seorang guru al-Qur`an harus memiliki komitmen pada nilai kebenaran al-Qur`an. Di samping itu, ia mampu membaca, menghapal dan menulis al-Qur`an dengan baik dan benar. Untuk bidang tafsirnya, ia harus menguasai ilmu-ilmu al-Qur`an (‘ulum al-Qur`an) dengan cabang-cabangnya.

Perlu diperhatikan bahwa kreativitas guru dalam desain pengajaran al-Qur`an, bukan ayatnya yang dirubah-rubah. Tetapi, cara memahami al-Qur`an dan cara mengajarkannya kepada siswa. Sebab, guru bisa saja sempit dalam memahami makna yang dimaksud dalam ayat-ayat al-Qur`an. Oleh karena itu, perlu wawasan luas tentang al-Qur`an, tafsir, ulum al-Qur`an dan ulum al-tafsir.

Dalam konteks al-Qur`an sebagai bahan ajar di sekolah, guru bidang studi al-Qur`an-Tafsir harus memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Kemampuan profesional, yaitu menguasai kandungan al-Qur`an, tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur`an. Setelah itu, menguasai metodologi pembelajaran al-Qur`an secara spesifik.
2. Kemampuan akademik, yaitu latar belakang pendidikan sarjana sesuai dengan bidang materi yang diajarkan yaitu jurusan PAI dan atau Tafsir.
3. Kemampun personal, yaitu kepribadian seorang guru bidang studi al-Qur`an-Tafsir yang sangat mencintai al-Qur`an yaitu rutin membaca al-Qur`an dan menghayati kandungan maknanya.
4. Kemampuan sosial, yaitu mampu menjadi perekat kehidupan bermasyarakat menjadi ummatan wahidatan (umat Islam yang satu). Karena, sepanjang al-Qur`an yang menjadi sumber dan pedoman hidup masyarakat, maka jangn saling menghinakan apalagi mengkafirkan sesama orang yang memegang teguh al-Qur`an. Sebab, kalau yang berbeda hanya dalam wilayah penafsiran, maka berarti ayat al-Qur`annya tetap sama. Bahkan al-Qur`an sendiri menyebutkan kita manusia dijadikan berbeda-beda untuk saling mengenal, bukan untuk saling bermusuhan.

Atas dasar di atas, menjadi jelas urgensinya seorang guru bidang studi al-Qur`an dalam melakukan desain pengajaran al-Qur`an. Melalui kemampuan ini, sumber ajaran Islam menjadi menarik dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan sekolah. Hasil-hasil kajian di sekolah, menjadi bahan dalam kehidupan di keluarga dan masyarakat.


TEKNIK PERSIAPAN

Yang dimaksud persiapan di sini adalah persiapan sebelum guru mengajarkan materi pokok. Hal-hal yang perlu dipersiapkan yaitu:

1. Menciptakan sugesti yang positif.
2. Menciptakan lingkungan fisik yang positif
3. Menciptakan lingkungan sosial yang positif
4. Kemukakan tujuan belajar al-Qur`an yang jelas dan bermakna
5. Jelaskan manfaat belajar al-Qur`an bagi siswa
6. Siapkan sarana-sarana yang mendukung optimalisasi proses pembelajaran
7. Siapkan keterlibatan siswa secara penuh
8. Berikan rangsangan agar muncul rasa ingin tahu siswa terhadap materi yang akan diajarkan

SUGESTI positif akan melahirkan pengalaman positif. Banyak orang mempunyai perasaan negatif tentang belajar. Ia mengaitkan belajar dengan rasa sakit, terpenjara, terhina, dll. Tugas pertama guru adalah menjadikan siswa tergugah, terbuka dan siap untuk belajar.

Ungkapan yang harus dihindari oleh guru, misalnya:
 Banyak sekali materi yang harus kita bahas padahal waktunya hanya sedikit.
 Topik ini sangat kompleks dan sulit
 Saya tahu ini membosankan, tetapi tetaplah tekun
 Jika kalian tidak mengerti ini, kalian tidak akan mendapatkan pekerjaan
 Kalian harus ingat kedelapan langkah persiapan ini.
 Ini mungkin tidak masuk akal bagi kalian, tapi berusahalah mempelajarinya.

Semua ungkapan di atas dapat melumpuhkan proses belajar. Tidak ada kegembiraan dalam belajar.

Ungkapan sugesti positif:
 Setelah menguasai materi ini, kalian akan mampu ……..
 Nanti kalian merasa bahwa hal-hal ini menyenangkan dan menarik
 Ini akan sangat penting bagi kalian.
 Kalian pasti suka dengan apa yang akan saya ajarkan ini.
 Belajar ini sangat mudah.
 Saya yakin anda akan berhasil menguasai materi ini, karena saya siap membantu anda.

Jadi, sugesti sebagai persiapan belajar tidak boleh menimbulkan kesan bodoh, dangkal, tidak realistis.

LINGKUNGAN harus memberi kesan gembira, positif dan membangkitkan semangat. Misalnya: tempat duduk berkelompok, meja bundar, stasiun kerja, dst. Hiasi ruang belajar dengan periferal (apa saja yang dapat menambah warna, keindahan, minat dan rangsangan belajar). Aroma di dalam ruangan perlu disiapkan.


DESAIN TUJUAN

Tujuan harus dirancang sedemikian rupa sehingga jelas apa yang akan dilakukan berkaitan dengan tugas seorang guru bidang studi al-Qur`an. Posisi tujuan ini amat penting. Tanpa rancangan tujuan, guru akan melakukan hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu dikerjakan. Jika hal yang tidak perlu dikerjakan, maka akan terjadi pemborosan waktu. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa adanya rancangan tujuan dapat mengefektifkan pekerjaan guru yang terfokus pada tujuan pembelajaran tersebut.

Tujuan pengajaran harus spesifik (specification of objectives). Tujuan pengajaran mengarahkan siswa terhadap apa yang perlu dipelajari dan apa yang harus dikuasai.

Mengapa guru harus mendesain tujuan? Hal ini dapat dilihat dari urgensi tujuan dalam pembelajaran, yaitu:
1. Untuk memfokuskan guru terhadap apa yang seharusnya diajarkan dan untuk menghindari pemberian materi yang tidak relevan.
2. Untuk mengarahkan peserta didik, apa yang harus dipersiapkan dan dipelajari.
3. Untuk menentukan indikator-indikator yang jelas untuk mengukur keberhasilan.
4. Untuk menentukan metode yang tepat.
5. Untuk membatasi bahan evaluasi agar tidak melebar pada aspek yang tidak perlu.

Secara internal, dalam rangka merumuskan tujun pengajaran al-Qur`an, perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:
1. Materi apa yang akan ditransformasikan.
2. Nilai-nilai apa yang akan ditanamkan.
3. Hasil yang bagaimana yang diharapkan.
4. Sarana apa yang bisa dipakai.

Secara eksternal, ketika mendesain tujuan pengajaran, perlu dipertimbangkan :
1. Aspek lembaga, apa dan bagaimana visi, misi dan tujuan lembaga pendidikan. Setiap lembaga pendidikan memiliki tiga hal tersebut secara berbeda. Lembaga pendidikan keislaman berbeda dengan lembaga pendidikan umum. Guru harus memahami hal tersebut. Guru membangun lembaga dengan penuh dedikasi (pengabdian).
2. Aspek kinerja, apa saja yang harus dikerjakan guru. Dalam makna kinerja bukan sekedar kerja, tetapi pekerjaan yang bermutu dan menghasilkan (produktivitas).
3. Aspek kondisi, bagaimana keadaan yang sedang terjadi dan harus dihadapi oleh guru. Kondisi akan banyak mempengaruhi rancangan tujuan pembelajaran. Artinya, tujuan yang ideal akan percuma jika tidak ada kondisi yang mendukung. Daya dukung kondisi amat penting. Oleh karena itu, guru harus pintar-pintar mengkondisikan keadaan lingkungan pendidikan. Di sini perlu adanya kerjasama dengan kepala sekolah dan masyarakat sekitar termasuk orangtua siswa untuk membangun kondisi pembelajaran.
4. Aspek kriteria, apa saja yang diperlukan agar kinerja guru dan siswa berkualitas. Syarat-syarat pokok perlu diidentifikasi secermat mungkin sehingga dapat memenuhi kebutuhan.

Adapun sasaran yang harus disentuh dalam merumuskan tujuan pembelajaran, yaitu:
1. Kognitif (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian).
2. Afektif (penerimaan, partisipasi, pilihan sikap/nilai, organisir nilai-nilai, bentukan pola hidup).
3. Psikomotorik (gerakan terbimbing, biasa, kompleks, kreativitas).

Secara teknis, komponen tujuan pembelajaran mencakup:
1. Audience (peserta didik)
2. Behavior (perilaku yang diharapkan)
3. Condition (kondisi apa yang diperlukan)
4. Degree (tingkat keberhasilannya)

Contoh:

Siswa (A) dapat menyebutkan rukun iman berdasarkan al-Qur`an Nabi (B) melalui orasi di depan kelas (C) dengan lancar (D).

Tujuan harus spesifik dan operasional agar mudah diukur. Tujuan harus tertulis dan jelas untuk menggambarkan apa yang harus diketahui (to know), apa yang harus dikerjakan (to do), apa yang menjadi kecakapan hidup (to live) dan bagaimana menjadi diri sendiri (to be)

DESAIN KOMPETENSI

Kompetensi yaitu kemampuan yang harus dimiliki dan dicapai oleh siswa sebagai performance yang ditampilkan.

Kompetensi Merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.

Ada tiga macam kompetensi, yaitu Kompetensi materi, lintas kurikulum dan kelembagaan.

Aspek-aspek kompetensi yang terpenting:
 Pengetahuan (knowledge)
 Pemahaman (understanding)
 Kemampuan (skill)
 Nilai (value)
 Sikap (attitude)
 Minat (interest)

Standar kompetensi dijabarkan lagi menjadi kompetensi-kompetensi dasar. Kompetensi dasar yaitu kompetensi minimal yang harus dimiliki. Tiap standar kompetensi dapat dijabarkan dalam beberapa kompetensi dasar.

Kompetensi dasar dapat dilihat dari indikator-indikatornya. Indikator adalah karakteristik, ciri, tanda yang harus ditmpilkan siswa untuk menunjukkan bahwa siswa telah memiliki kompetensi dasar.

Sebelum mewujudkan kompetensi para siswa, terlebih dahulu guru harus kompeten, berprestasi dan berkepribadian. Pemerintah harus menerapkan sistem sertifikasi prestasi para guru sebagai bagian dari standarisasi prestasi guru secara nasional.

Guru al-Qur`an harus dapat digugu pepatahnya, dan ditiru tingkah lakunya.

DESAIN MATERI

Spesifikasi isi pokok bahasan (specification of content) perlu dilakukan guru. Pemilihan satu pokok bahasan gunanya untuk membatasi ruang lingkup, agar apa yang diajarkan lebih jelas dan lebih mudah. Isi pokok bahasan harus spesifik untuk membedakan dengan mata pelajaran yang sama pada tingkat sekolah yang berbeda.

Substansi materi al-Qur`an hendaknya membuka kemungkinan vertikal yang mengacu pada struktur keilmuannya, dan sekaligus secara horizontal mengacu pada interelasi dan relevansi antara bidang ilmu.

Materi al-Qur`an diharapkan lebih kontekstual, strategis dan fungsional dalam kerangkan membangun martabat bangsa yang Islami dalam perubahan sosial. Selama ini, materi al-Qur`an hanya dihapal, tidak kontekstual. Lebih jauh dari itu harus berfungsi dalam kehidupan seseorang.

Materi al-Qur`an dapat didesain dengan menggunakan Peta Konsep. Peta konsep adalah suatu cara mengorganisir materi pelajaran dalam bentuk peta secara holistik, interrelasi dan komprehensif. Guru harus mampu membangun struktur keilmuan secara vertikal dan menghubung-hubungkan ilmu tersebut dengan ilmu lainnya secara horizontal. Kemampuan membuat peta konsep merupakan kemampuan pokok guru (expertise based teacher).

Adapun karakteristik dari peta konsep, yaitu :
1. Hanya terdiri konsep utama (pokok).
2. Memiliki hubungan yang mengaitkan antara satu konsep dengan konsep lainnya.
3. Memiliki label yang membunyikan arti hubungan.
4. Peta merupakan representasi materi pelajaran yang pokok.

Latar belakang munculnya peta konsep diilhami oleh teori belajar asimilasi kognitif tentang belajar bermakna (meaningful learning). Proses belajar terjadi dengan mudah jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang sudah dimiliki dengan pengetahuan yang baru

Pengetahuan seseorang terorganisir secara hirarkis dalam struktur kognisi. Pengetahuan tingkat tinggi seperti pemahaman seseorang akan mempengaruhi susunan konfigurasi kognisi orang tersebut. Sedangkan pengetahuan tingkat rendah seperti hapalan tidak terjadi asimilasi dalam struktur kognisi, sehingga tidak akan memodifikasi bingkai proposisi yang ada. Oleh karena itu, hapalan perlu ditingkatkan menjadi pemahaman.

Makna suatu konsep akan mudah dipahami jika dilihat dan dihubungkan dengan konsep yang lain.

Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam membuat peta konsep :
1. Arti penting materi pelajaran yang diampu.
2. Apakah pelajar itu masih pemula atau lanjutan.
3. Berapa lama pelajaran itu diberikan.
4. Siapa peserta didiknya.

DESAIN MEDIA

Media pembelajaran sebagai sarana dan parsarana yang digunakan untuk membantu tercapainya tujuan pembelajaran al-Qur`an.

Media dapt mempermudah dan membantu guru dalam menyampaikan materi. Dengn menggunakan media, siswa akan lebih terangsang dalam melaksanakan belajar. Di samping itu, akan mudah mencerna dan menangkap pelajaran.

Media harus memberikan peluang interaksi dua arah atau lebih. Hal ini dapt memanfaatkan teknologi informasi.

Media dapat digolongkan pada 8 kategori, yaitu:
1. realthing, yaitu benda yang sesungguhnya, peristiwa yang sebenarnya terjadi.
2. verbal representation, yaitu media cetak seperti buku teks.
3. graphic representation, yaitu gambar dan diagrm-diagram.
4. still picture, yaitu foto dan slide transparant
5. motion picture, yaitu film, televisi, video
6. audio recorder, yaitu kaset, cd
7. programming, yaitu kumpulan informasi yang berseri.
8. Simulation, yaitu permainan untuk menirukan kejadian yang sebenarnya.

Terdapat beberapa pilihan media, mulai yang sederhana sampai paling canggih. Diantara yang canggih:
- Teknologi audio
- Teknologi visual
- Teknologi audio-visual
- Teknologi komputer
- Internet

Pertimbangan media:
1. Relevansi dengan tujuan pembelajaran al-Qur`an
2. Kegunaan dan kemanfatan
3. Kemampaun guru dalam menggunakannya
4. Kemampun siswa
5. Fleksibilitas, daya tahan, kenyamanan
6. keefektifan dalam pembelajaran.
7. biaya
8. mutunya


Sebagai seorang guru, harus menempatkan prioritas utama pada kegiatan belajar mengajar. Segala fasilitas diarahkan kepada kegiatan tersebut. Dengan adanya fasilitas dalam belajar, guru dapat berkomunikasi pada siswa dan dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman.

Sebagai guru yang baik, harus gigih mempersiapkan siswa untuk sukses dalam belajar. Kita dapat merancang belajar siswa agar menarik, menimbulkan minat, dan penuh keajaiban.

Siswa didorong untuk mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya. Ajaklah siswa untuk melakukan curah gagasan tentang apa yang telah mereka ketahui mengenai topik yang akan dibahas.

DESAIN STRATEGI

Strategi dalam pembelajaran adalah segala yang dapat diberdayakan oleh guru demi suksesnya pembelajaran.

Penetapan strategi (determination of strategy) yang relevan merupakan suatu keharusan dalam pembelajaran. Pengajaran al-Qur`an harus didesain agar benar-benar mempengaruhi siswa di sekolah, seperti: Penataan budaya belajar islami, menjadi perekat bagi materi lainnya dengan nuansa nilai-nilai al-Qur`an, menyentuh akal, hati dan ruhaniah, memadukan peran orangtua, guru dan masyarakat dalam mewujudkan nilai-nilai al-Qur`an.

Penataan pembelajaran al-Qur`an di era modern ini menuntut adanya gerakan modernisasi sistem dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.

Strategi didesain mengacu pada hakikat belajar mengajar. Jika belajar dipandang sebagai kegiatan aktif, maka strategi yang didesain adalah strategi pembelajaran aktif (active learning). Sebaliknya, jika belajar dipandang sebagai warisan ilmu, maka strategi yang didesain adalah pembelajaran konvensional/pasif.

Dalam memilih strategi pembelajaran, guru perlu mengenali gaya belajar (learning style) siswa, antara lain:
1. Siswa mungkin senang kompetisi
2. Siswa mungkin senang Menghindar
3. Siswa mungkin senang Kolaborasi
4. Siswa mungkin senang Partisipasi
5. Siswa mungkin senang Dependen
6. Siswa mungkin senang Independen

Adapun macam-macam strategi yang dapat dipilih dalam rangkaian desain pengajaran, misalnya:
1. Power of two (debat argumen)
2. Question student have (pertanyaan yang dimiliki kebanyakan siswa)
3. Card sort (kartu indeks)
4. Active debate (debat pro dan kontra oleh jubir kelompok)
5. Planted question (pertanyaan terencana secara susun huruf)
6. Information search (pencarian jawaban pertanyaan pada buku atau sumber lain)
7. Learning contract (kontrak rencana belajar)
8. Everyone is a teacher here (semua adalah guru)
9. Modelling the way (demonstrasi skenario kelompok)
10. Billboard ranking (ranking suatu nilai-nilai secara alfabetis)


Memang dalam proses belajar seseorng perlu melibatkan dengan seluruh kepribadiannya. Ia tidak hanya mendengar, tetapi juga perlu melakukan sesuatu.

Umumnya, guru jika sudah merasa aman dengan strategi yang biasa dipakai, malas menggunakan strategi baru. Ia tidak berani mengambil resiko baru. Padahal, boleh jadi strategi yang baru itu lebih baik.

Ketika seorang guru bertanya kepada siswa tentu tujunny untuk memperoleh jawaban dari siswa. Tapi ada yang lebih penting dari itu, dalam rangkan memberi kesempatan mengasah otak dan membuka pikiran mereka agar paham tentang konsep yang kita ajukan. Ini merupakan strategi guru dalm memberikan fokus. Ini pendekatan otak. Otak manusia seringkali mudah mengingat informasi dalam bentuk gambar, simbol, suara, dan bentuk perasaan.

Metode tanya jawab penting dalam menciptakan respon. Situasi dan kondisi yang baik ketika guru memberikan pelajaran di kelas yaitu kelas hidup tapi terkendali, yakni adanya suara-suara respon dari siswa yang positif baik secara bersama-sama atau seorang demi seorang secara tertib. Metode ini dinilai baik dalam hal menumbuhkan, memupuk keberanian mental dalam melahirkan buah pikiran.

DESAIN SUASANA

Ketika proses belajar mengajar al-Qur`an, suasana perlu dirancang sejalan dengan suri tauladan para mual-Qur`an. Kita dapat membaca keteladanan para mual-Qur`an dengan memperhatikan adab-adab dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

Hal-hal yang perlu dicegah yaitu suasana ribut dan main-main dalam ruangan belajar. Kebiasaan bergurau sebagaiman lazimnya para penceramah amatiran perlu dihindarkan ketika mengajarkan al-Qur`an. Apalagi al-Qur`an-al-Qur`annya yang diselewengkan dengan tujuan menciptakan suasana tertawa bagi par pendengarnya. Hal ini akan berakibat pada kebiasaan siswa menganggap remeh bahkan menyelewengkan ajaran agama yang sebenarnya mulia. Lebih lanjutnya, hal ini akan menghambat tercapainya tujuan pendidikan Islam secara makro.

Guru harus berusaha agar para siswa menyukai suasana belajar. Apabila guru tidak mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, maka amat wajar jika para siswa tidak suka belajar al-Qur`an. Apalagi jika para siswa sudah menebak-nebak metode yang dipakai oleh guru tersebut, misalnya pasti ceramah. Ceramah sudah dianggap membosankan bagi para siswa, sehingga guru perlu menciptakan suasana baru dengn metode-metode pengajaran yng baru dalam pandangan siswa.

Secara kualitatif, seorang guru harus memposisikan sebagai pendidik profesional. Pengajaran tidak kaku dan tidak monoton. Guru profesional dalam mengajar luwes dan variatif.

Ciptakan suasana belajar al-Qur`an yang menyenangkan. Dengan cara demikian akan menghasilkan ilmu al-Qur`an. Agar suasana menggairahkan, ada 4 hal yang perlu diperhatikan, yaitu: pertama niat, kedua hubungan, ketiga rasa saling memiliki dan keempat keteladanan.

Guru harus memiliki niat yg kuat untuk mengajarkan al-Qur`an-al-Qur`an. Di samping itu guru memiliki kepercayaan atas kemampuannya dalam mengajar al-Qur`an. Keyakinan seorang guru akan kemampuan dirinya, sangat berpengaruh terhadap kemampuan itu sendiri.

Guru harus membina hubungan harmonis dengan siswa. Ketahuilah emosi siswa agar dapat berhubungan dengan baik. Jalin rasa simpati dan empati. Dengan cara ini, guru akan lebih mudah mendesain pengelolaan kelas dalam proses belajar mengajar.

Guru dan siswa harus merasa saling memiliki. Apa yang sudah diajarkan guru, lakukan afirmasi (penguatan/penegasan). Dengan afirmasi ini siswa merasa lebih yakin dan mantap.

Guru harus menjadi teladan dalam pengamalannya. Jujurlah dengan mereka semua. Akuilah mereka walaupun ada kekurangan.

Ruangan perlu diatur sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan siswa, sesuai dengan media yang akan digunakan.

Lingkungan kegitan belar mengajar juga perlu didesain sehingga kondusif dan nyaman untuk belajar. Seperti pengaturan tempat duduk, penataan taman, aroma ruangan, serta selingan iringan musik yang indah.

Ketika siswa sedang belajar, terkadang pandangannya mengarah ke sudut-sudut ruangan. Oleh karena itu, segala sudut rungan perlu diatur dengan poster-poster pembelajaran, sehingga pandangan siswa tidak kosong dan tidak hampa. Ruangan belajar ditata dengan gambar, poster ikon dan poster afirmasi.









Poster Afirmasi

Cara guru menata bangku dalam belajar sangat berperan dalam kenyamanan belajar. Guru bebas mengatur ulang tempt duduk siswa untuk memudahkan interaksi yang diperlukan. Mengubah bentuk tempat duduk ini bertujuan untuk memaksimalkan momen belajar siswa.

Pengaturan bangku, antara lain:
- Setengah lingkaran
- Melingkar penuh
- Bentuk huruf U
- Rapatkan ke dinding dan ada jarak antra satu dengan yang lain.
- Lingkaran-lingkaran kecil (bila kerja kelompok)
- Dan lain-lain

Kursi yang baik untuk proses belajar, yaitu kursi lipat yang ada tempat menulisnya, sehingga fleksibel dan mudah digeser-geser sesuai kebutuhan.

Musik dalam beberapa hal, dapat menata suasana hati dan mengubah mentalitas seseorang. Musik dapat meremajakan seseorang sehingga tumbuh semangat kembali. Oleh karena itu, musik dalam konteks pembelajaran yaitu :
1. Meningkatkan semangat belajar
2. Merangsang pengalaman belajar
3. Menumbuhkan relaksasi
4. memberikan inspirasi
5. memperkuat fokus penghayatan.

DESAIN PENGALAMAN DAN KETERAMPILAN

Pengalaman pembelajran al-Qur`an merupakan seperangkat nilai yang ada dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa berkembang secara intelek, berpengetahuan, kaya dengan ide, kemampuan bergerak dan bersikap menurut tata cara dan aturan al-Qur`an.

Dalam proses belajar mengajar, perlu didesain mengacu pada prinsip-prinsip belajar, yaitu:
1. Mengajar hendaknya bertolak dari kondisi kemampun siswa.
2. Siswa belajar dengan melakukan sesuatu karya sebagai pengalaman nyata.
3. Mengembangkan keingintahuan dan imajinasi intelektual.
4. Mengembangkan kemampuan sosial.
5. Mengembangkan keterampilan memecahkan masalah
6. Membina kemampuan memanfaatkan Iptek dengan bijaksana
7. Menumbuhkan kesadaran sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.

Pengalaman belajar dapat dilakukan di dalam kelas atau di luar kelas. Lakukan aktivitas yang berkaitan dengan al-Qur`an. Identifikasi perilaku masyarakat yang bertentgan dengan al-Qur`an.

Sekolah yang mengajarkan keterampilan

Sekolah perlu memutuskan untuk menggunakan metode-metode quantum di sekolah. Setelah menguasai metode quantum dan teknik-teknik mengajar, meluangkan waktu untuk mendesain mata pelajaran. Para guru kemudian mengajarkan keterampilan baru tersebut kepada siswa.

Dengan mengjrkn siswa cara berkonsentrasi, mencatat yang efektif, beljr untuk menghadapi ujian, meningkatkan kecepatan membaca, memahami dan kemampuan menghpalkan. Guru mengajarkan siswa cara menjadi pelajar yang sukses. Hal ini secara akademis berpengaruh pada cara memandang diri sendiri sebagai pelajar sepanjang hayat.

Jelaskan kepada mereka bahwa orang belajar dengan cara yang berbeda-beda dan semua cara sama baiknya. Setiap cara memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Kenyataannya manusia memiliki kesemua kelebihan, hanya saja salah satu kelebihan yang dominan.

Bagi pelajar visual, guru garus membuat banyak gambar dan simbol dalam catatan mereka. Pelajar visual mulai dari “gambar keseluruhan”. Melakukan tinjauan umum mengenai bahan pelajaran. Membaca bahan secara sekilas sebelum masuk pada rinciannya.

Bagi pelajar auditorial, berikan rekaman kaset dan ceramah daripada mencatat. Mereka lebih suka mendengarkan informasi berulang-ulang. Mereka diminta mengatakn ulang apa yang guru katakan. Apabila mereka mengalami kesulitan dengan suatu konsep, bantulah mereka berbicar dengan diri mereka sendiri untuk memahaminya.

Bagi pelajar kinestetik, berikan gerkan-gerakan fisik sambil mempelajari suatu pelajaran. Lakukan asosiasi gerakan dengan setiap konsep.

Berikan pandangan baru dalam belajar al-Qur`an. Tulis huruf-huruf di papan tulis saat guru menjelaskan. Berikan pertanyaan atau kesempatan bertanya. Pelajar sejati selalu ingin tahu. Lontarkan pertanyaan yang dapat membantu kalian memahami pelajaran. Dalam hal ini akan membantu pikiran agar terlibat. Katakan bahwa saya sudah memahaminya atau sebaliknya belum paham.

Jika mereka lelah, atur duduk tegak atau berdiri. Suruh pejamkan mata, bernapas dalam-dalam, pikirkan objek khusus yang mereka visualisasikan, lalu bukan mata kembali. Saat membuka mata mereka harus merasa santai, terpusat dan waspada. Hilang rasa tertekan dan cemas. Akibatnya mereka akan memiliki sikap positif mengenai pelajaran kita.

Bantu mereka memetakan pikiran. Hal ini akan banyak membantu menyerap informasi yang bermacam-macam. Peta pikiran sangat berguna untuk curah gagasan terutama pada saat menyerap informasi, sehingga tersusun dan melancarkn aliran pikiran.

Dalam mencatat, berikan pengalaman tulis dan susun (TS). Minta mereka menuliskan sesuatu pelajaran untuk mengantrkan pada perjalanan mental mereka. Menuliskan pikiran-pikiran ini membantu mereka menyadari diri sendiri.

Siapkan selembar kertas, ballpoin dan stabilo. Mintalah mereka menggambar kolom-kolom: topik, pertanyaan, keadaan pikiran, perasaan dan susunan catatan.

Munculkan si Jenius Kreatif. Ajarkan kepada mereka cara mengerjakan tugas baca buku. Tanya diri anda. Apa topik tugas ini? Apa manfaatnya? Bagaimana mendapatkan informasinya? Kemudian masuk keadaan konsentrasi. Letakkan buku di depn anda. Lakukan keadaan alfa. Baru buka buku Anda. Lakukan Quantum Reader, pahami secara keseluruhan. Lihat hasilnya.

DESAIN SUMBER BELAJAR

1. Guru
2. Buku
3. Perpustakaan
4. Pengalaman

DESAIN EVALUASI PEMBELAJARAN

Evaluasi merupakan komponen penting dalam pembelajran. Tujuan evaluasi yaitu untuk mengumpulkan data yang akan dijadikan bukti perkembgan studi siswa, untuk menilai tingkat ketercapaian guru dalam mengajar.

Filosofi evaluasi yaitu bahwa semu orang bisa belajar apa saja hanya waktu yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan standar yang akan dicapai. Terkadang perlu remidial. Siswa yang belum mencapai standar harus belajar kemudian diuji lagi sehingga ia mencapai standar (Standar Kompetensi).

Evaluasi dilakukan terhadap proses pembelajaran sejak awal hingga akhir. Yang dievaluasi bukan hanya siswanya, melainkan juga sistem pengajarannya. Dari sini didapatkan laporan untuk melakukan analisi feedback (analysis of feedback).

Butir soal evaluasi disusun berdasarkn indikator-indikator yang diperlukan. Setiap indikator dapat dibuat beberapa butir soal.


Prinsip-prinsip evalusi:
1. Continuitas (berkelanjutan)
2. Komprehensif
3. Objektif
4. Valid dan reliabel

Penilaian berkelanjutan
Dalam sistem penilaian berkelanjutan, setiap butir soal dianalisis hasilnya untuk menentukan kompetensi dasar apa yang sudah tercapai dan mana yang belum. Serta melihat kesulitan apa yang dialami siswa. Hasil ujian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan.

Bentuk tes
1. Tulis
2. Lisan
Tes Kognitif
1. Pilihan ganda
2. Uraian Essay
Tes afektif
1. Skala sikap
“Saya senang mengikuti pelajaran ………” (SS, S, TT, TS, STS)
Tes psikomotorik
1. Portofolio
2. Performance


DESAIN SILABUS

Silabus merupakan seperangkat rencana pembelajaran dan pengaturan kurikulum. Silabus harus disusun secara sistemik dan sistematis.

Komponen silabus
1. Kompetensi dan tujuan.
2. Materi
3. Target dan hasil pencapaian belajar
4. Indikator-indikator
5. Pengalaman Belajar
6. Penilaian/evaluasi
7. Alokasi waktu
8. Sumber.

Prosedur Silabus
1. Perencanaan. Di sini kumpulkan informasi dan referensi
2. Implementasi
a. Rumuskan kompetensi, materi, hasil belajar, indikator dan pengalaman belajar (demonstrasi, praktek, simulasi, pengamatan, eksperimen).
b. Tentukan metode, strategi, model dan pola pembelajaran.
c. Menyusun alat evaluasi pembelajaran.
d. Menentukan alokasi waktu dan sumber-sumber belajar.
e. Uji coba.
3. Penilaian silabus. Kita bisa menggunakan model CIPP (contect, input, process, product).
4. Revisi silabus. Hal ini untuk menghasilkan kualitas berkelanjutan (continuous quality improvement).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang terpikir oleh Anda